Tiga Pesan Kiai Said untuk kader GP Ansor

Tiga Pesan Kiai Said untuk kader GP Ansor
Feb 4, 2021
        



Tiga Pesan Kiai Said untuk kader GP Ansor
Tiga hal penting yang harus dimiliki oleh kader GP Ansor, pertama, Kader Ansor harus betul-betul mempunyai semangat agama yang benar. Kedua, mempunyai karakter. Dan ketiga, mempunyai skil. Hal tersebut disampaikan Ketua PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA. Dalam kesempatan silaturrahmi Pimpinan Pusat GP Ansor ke PBNU pada Senin, 17 Juni 2019.

Ketua PBNU yang akrab dipanggil Kiai Said berpesan kepada kader-kader Ansor untuk selalu menunjukkan semua potensi kemampuan yang dimilikinya untuk mewarnai perputaran politik bangsa ini, GP Ansor juga diminta untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pengkaderannya sebagaimana dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang tahap-tahap pengkaderan: pertama, yaqruu ‘alaihim aayatihi yang artinya semua kader harus bisa membaca Al-Qur’an. Kedua, wayuzakkihim yang artinya memiliki karakter/kepribadian/integritas yang bagus. Ketiga, wa yu’allimu kitaab yang artinya skil/keterampilan. 




Sebagaimana diketaui bersama, bahwa sikap politik NU adalah politik kebangsaan. Hasil muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984, NU menegaskan kembali ke khittah  sebagai Jamiyyah Diniyyah Ijtimaiyyah (Organisasi agama dan kemasyarakatan), bukan organisasi politik. Diksi bukan sebagai organisasi politik ini ditegaskan oleh para pimpinan NU dengan maksud dalam politik praktis, NU tetap memperhatikan dan mempunyai tanggung jawab politik, yaitu politik kebangsaan.

Politik kebangsaan NU merupakan pengejewantahan tanggung jawab NU kepada bangsa dan negara untuk tetap mengawal perjalanan politik Indonesia agar tetap dalam rel kebangsaan yang telah disepakati bersama oleh para pendiri bangsa dengan ciri utama tetap mengutamakan keluhuran akhlak agar tercapainya kedamaian dan kesejahteraan rakyat.


 
Politik kebangsaaan merupakan cermin moderatisme NU dalam politik. Politik kebangsaan adalah politik yang menitikberatkan bangsa sebagai individu-individu yang memiliki negara dan sekaligus agama sebagai pondasinya. Bukan politik nation melulu, bukan pula agama melulu. (AMN) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedekah Tak Harus Rupiah

Kronologi Resolusi Jihad, Bagaimana Urutan Peristiwa

KISAH NYATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA DIBERI CINCIN OLEH RASULULLAH SAW